Rivalitas El Clasico adalah persaingan yang telah mendarah
daging. Suatu pertandingan yang senantiasa ditunggu para pendukung kedua
klub, atau pecinta sepak bola di berbagai belahan dunia. Seperti, ada
kewajiban bagi kita untuk menonton pertarungan kedua tim itu, yang penuh
dengan gengsi. Kehormatan yang jauh lebih tinggi dari sekadar tiga poin
nilai, atau hanya sekadar uang.
Real Madrid dan Barcelona merupakan dua entitas terbesar di negara
Spanyol. Jika membandingkan kota, kedua kota tersebut merupakan kota
terbesar di Spanyol. Jika berbicara klub sepak bola, keduanya merupakan
dua klub besar, paling sukses, paling kaya, dan memiliki basis fans
paling banyak di Spanyol. Jumlah itu belum termasuk fans dari luar
Spanyol.
Kedua stadion mereka, yakni Santiago Bernabeu dan Nou Camp, sudah
seperti rumah ibadah bagi kedua fans. Bagi fans kedua klub,
masing-masing stadion mereka dianggap sangat suci, dan seakan, haram
hukumnya melihat kesebelasan kesayangan mereka kalah di kandang sendiri,
apalagi dari rival abadi.
Rivalitas kedua klub ini bermula dari partai-partai politik, yang
menggunakan sepak bola sebagai salah satu cara untuk meraih massa. Hal
itu lalu berubah menjadi pertarungan budaya antarkaum Castille (kerajaan), yang diwakili Real Madrid, dan kaum Cataluna
yang diwakili Barcelona. Sehingga, orisinalitas apapun yang dimainkan
di tengah lapangan, akan selalu memiliki penilaian politis.
Pemicu lain dari rivalitas dua klub raksasa Spanyol ini adalah
perebutan pemain. Mulai dari, Michael Laudrup yang pindah ke Real Madrid
pada 1994 dengan status free transfer (transfer bebas). Hingga
yang paling menghebohkan, perpindahan kedua idola masing-masing tim
pada saat itu. Luis Enrique tiba-tiba pindah dari Real Madrid ke
Barcelona. Real Madrid “membalas” dengan “membajak” Luis Figo dari
Barcelona. Perpindahan Luis Figo ke Madrid makin memanaskan suhu
persaingan kedua tim. Rasa benci fans Barcelona ditunjukkan kepada Figo
dengan melemparkan kepala anak babi saat duel El Clasico di semi final Liga Champions tahun 2002.
Di era modern, rivalitas ini berubah menjadi sebuah pertaruhan
ideologi sepak bola. Kedua klub mengklaim masing-masing mereka lebih
baik dari rivalnya. Satu hal yang menarik, El Clasico selalu
dihubungkan dengan sejarah perseteruan ideologi dan politik. Kekalahan
Barcelona 11-1 oleh Madrid pada 1943. Memori itu tentu tidak pernah
nyaman untuk diingat kubu Barcelona. Pertandingan itu kemudian menjadi
catatan paling penting dalam sejarah El Clasico. Kubu Madrid akan sontak meneriakkan Hala Madrid jika mengungkit pertandingan tersebut. Sedangkan, Barcelonistas punya alasan untuk menampik sejarah itu.
Cerita yang berkembang dan diamini para pendukung Barcelona,
kekalahan itu terjadi karena ada campur tangan dari rezim diktator
Jenderal Fransesco Franco, yang berkuasa di Spanyol saat itu.
Ia mengharamkan penggunaan bahasa dan bendera Catalan itu. Franco
sendiri dikenal sebagai pengagum Real Madrid.
Versi itu tentu berbeda dengan yang diyakini Madridistas. Rumor
campur tangan Jenderal Franco, adalah omong kosong kubu Barca, yang
sulit menelan kenyataan pahit itu. Kemenangan 11-1, murni karena
kehebatan Madrid. Tidak ada satu bukti pun yang bisa menguatkan tuduhan
bahwa Jenderal Franco mengintimidasi pemain Barca sebelum bertanding.
Bahkan konon, pemain Barca menepis sendiri rumor itu.
Lagipula, Jenderal Franco ikut membiayai operasionalisasi Camp Nou.
Untuk hal itu, Barcelona memberi penghargaan dua medali kepada Franco.
Madrid juga bukan tim Franco, seperti yang digembar-gemborkan
Barcelonistas ketika itu. Karena, sang jenderal juga memfavoritkan tim
selain Real Madrid, yakni Atletico dan Barcelona.
Anggapan Rezim Franco yang diskriminatif terhadap masyarakat Catalan,
yang pada gilirannya melahirkan perang sipil Spanyol, sering dianggap
sebagai biang rivalitas dan terjadi antara tahun 1936-1939, adalah
keliru. Kesalahan anggapan itu juga diperkuat dengan data yang
menyajikan fakta terbalik. Bahwa sesungguhnya, Catalonia versus
Castilia, atau Real Madrid dan Barcelona lebih sering berada di satu
pihak.
Pada akhir 1960an dan awal 1970an, misalnya, Jendral Franco justru
sempat memilih presiden untuk kedua Klub. Data lain menegaskan, dua
bersaudara berdarah Catalan (Carlos Padros dan Juan Padros) adalah
pendiri Real Madrid yang tinggal di Madrid. Mereka punya toko pakaian
yang kemudian menjadi tempat berdirinya Madrid FC tahun 1902, tiga tahun
setelah berdirinya Barcelona FC pada tahun 1899, yang didirikan oleh
Joan Gamper.
Lebih jauh, dua dari Presiden Real Madrid selama perang sipil
beraliran anti-Franco. Rafael Sanchez Guerra adalah seorang Republikan,
dan Kolonel Antonio Ortega seorang penganut aliran komunis yang fanatik
pada Uni Soviet. Fakta lain, Barcelona adalah klub yang pernah dianggap
sebagai anti-Spanyol. Namun, Barca justru penyuplai pemain terbanyak
Timnas Spanyol hingga sekarang. Sejak 1939 hingga kedatangan Alfredo Di
Stefano di Real Madrid tahun 1953, yang merupakan periode paling
represif selama rezim Franco, Real Madrid gagal memenangi liga.
Sementara, Barcelona memenangkan lima gelar. Jadi tidaklah tepat kalau
Barca diintimidasi sehingga gagal menjadi juara.
Tulisan ini hendak menakbirkan fakta, sesungguhnya kedua klub itu
memiliki banyak persamaan daripada perbedaan, sama-sama klub raksasa
dengan pendapatan terbanyak. Termasuk untuk kelompok suporternya.
Mencitrakan Barcelona sebagai klub proletar antipemerintah, hanyalah
mitos yang dibangun secara rapi. Maka lebih arif memosisikan kedua klub
sebagaimana kata Santiago Solari, “Yang ada dalam benak pemain adalah sepakbola, bukan politik!”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar